14 September 1953. Berarti tahun ini si Mami berulang tahun yang ke-58.
” Mami udah tua tauk!!” ” Iya, Mi.. ho-ooh.” Kata-kata wajib tiap melihat putri-putrinya mulai menggila. Memang anak-anaknya suka kelewatan kalau bandel. Padahal Mami sudah banyak ubannya, banyak keriputnya, dan baru mau pakai celana denim lagi setelah dipaksa seisi rumah. ” Ga kayak ibu-ibu.” Itu alasannya.” Mami udah tua tauk!” Iya, Mi.
Mamii, Mami.. kita sering dikira kakak adik saking miripnya. Tapi Mami tetap kakaknya, sih..ya iyalah, masak sayaa?
Tidak ada yang boleh menyebut dirinya dengan “aku” untuk si Mami. Anak-anaknya hanya boleh menyebut dirinya dengan nama, atau “saya”. Seperti galak. Memang begitu adanya. Dan tidak satu pun dari anak-anaknya berani membantah soal ini.
Paling repot kalau pergi ke mall atau plaza dengan Mami. Meleng sedikit, dia sudah tidak kelihatan dari pandangan mata. Entah sangkut di toko mana. Hampir bisa dipastikan di sekitar toko perabotan rumah dan dapur. Dan seperti kebanyakan ibu-ibu, jangan harap dia dengar kalau ponsel di tasnya meraung-raung puluhan kali karena kita yang kecarian. Nanti dia tiba-tiba muncul, dengan sekantong belanjaan. Mungkin keset. Mungkin poci teh imut-imut. Mungkin panci. Tidak usah diomeli. Daripada panci pindah ke pipi.
Si Mami ini terkenal pintar memasak dan menjahit. Mulai dari rendang sampai nasi gorengnya enak semua. Sayang tidak menurun sama anaknya, apalagi yang paling tua. Mami bisa menjahit sarung bantal, merubah model tirai jendela, mengecilkan blus, merenda, macam-macam. Sayangnya, anak-anaknya juga tidak kebagian bakatnya yang ini. Jadi bisanya cuma baju-baju yang lepas kancingnya atau sobek.” Jait gini aja ga bisa sih!!” Tapi tetap dia jahit.
Dia sering mengomel. Tapi tetap, Mami pasti melakukan apapun kalau kita minta tolong. Kadang juga tidak diminta tetap dia lakukan. Mami sepertinya sanggup melakukan apapun untuk anak-anaknya. Kapanpun. Dimanapun.
Di usianya yang hampir enam puluh, dia tetap telaten mengurusi pernak-pernik anak-naknya yang suka tidak tahu diri ini. Dengan telaten. Hari ini, dia memindahkan tempat tidur saya ke sisi yang lain. Karena dia tahu alergi saya sedang kumat-kumatnya. Terlalu dekat dengan pendingin ruangan akan lebih memperparah keadaan. Itu sering dia lakukan tiba-tiba kalau alergi saya kambuh, atau tiba-tiba batuk parah, yang entah kenapa, setahun sekali minimal pasti ada.
“Mami nih udah tua tauk!! Masak beresin kamar sendiri aja susah bener!” Saya tidak pernah meminta kamar saya dibereskan. Saya bisa bereskan kapan saya mau (baca: ingat). Dia tetap membereskan kamar saya kalau dia tahu saya tidak membereskannya pagi-pagi.
Mami adalah ibu yang sempurna buat saya. Dia melakukan segalanya untuk anak-anaknya. Dan dia segalanya buat saya.
Waktu kecil, kita mungkin tidak terlalu merasakan, atau tidak terlalu ingat, ada tidaknya orang tua kita. Yang kita ingat ibu kita galak. Takut. Tapi waktu saya kecillah justru saya pernah merasakan ketidakhadiran dia, yang membuat saya sangat membutuhkan dia. Perasaan itu tertanam dari suatu hari. Yang saya ingat hingga saat ini.
Kehidupan tidak selalu manis. Entah bagaimana,saya tinggal terpisah. Jauh dari dia. Di rumah tidak ada telepon. Saya tidak bisa bicara dengannya. Tadinya tidak terjadi apa-apa. Saya biasa-biasa saja. Sampai dia datang mengunjungi saya. Ibu yang saat itu jarang saya temui. Senang. Selayaknya anak perempuan kecil, saya senang. Senang sekali.
Sampai suatu hari, saya mendapati dia mengemas barang-barangnya. Dia harus pergi. Lagi. Saya diam. Tidak berkata apa-apa. Tidak menangis. Dia akan pergi dengan penerbangan pagi. Malam itu saya tidak mau tidur di dekat dia. Ada perasaan ganjil. Takut. Sedih. Saya tidak akan melihat dia, tidak tahu sampai kapan. Dia tidak bisa menelepon ke rumah. Campur aduk. Dan saya tidak tahu cara menulis surat.
Keesokan paginya, dia mengantar saya ke sekolah. Dia akan langsung ke bandara setelah mengantar saya sekolah. Saya melirik dia dari kaca mobil. Matanya merah. Dan ketika saya sampai di sekolah, saya berpamitan tanpa mengatakan apa-apa. Cuma menyalam tangannya, dan dia tampak menangis dan menggumamkan nasihat yang saya tidak sanggup menelannya.
Tidak lama setelah itu, saya menangis sejadi-jadinya. Lama sekali. Berjam-jam tanpa henti. Tangisan anak umur 7 tahun yang tidak tahu apa yang akan terjadi antara dia dan ibunya setelah ini.Tapi saya tidak menangis di depan dia. Entah kenapa, waktu itu, saya yakin kalau saya menangis, dia pasti jauh lebih sedih. Saya memilih melepas dia pergi tanpa air mata.
Dan itu jadi memori yang tersimpan menahun. Bagaimana rasa sakit hari itu dimana saya tidak akan merasakan kehadirannya. Untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Selang beberapa tahun kemudian, akhirnya saya bersama dia lagi. Dan tumbuh besar di hadapannya. Dan betapa bahagianya saya mendapati dia tidak akan kemana-mana lagi.
Selayaknya hubungan anak dan ibu, saya juga tidak selalu adem-adem saja. Hampir semua sifatnya menurun pada saya. Dan beranjak dewasa, sifat kita yang hampir sama justru menjadi bahan selisih paham. Kalau dia keras kepala, maka saya juga. Dia galak, saya hampir sama galak. Kadang bertengkar dengannya membuat saya frustrasi. Tiba-tiba dia jadi orang yang sulit dihadapi. Sampai akhirnya saya bisa menyadari, dia mencintai saya, tapi dengan caranya sendiri.
Tapi itu tidak mengurangi apapun dari rasa sayang saya. Saya justru teramat takut kalau dia tidak ada. Sekeras apapun sifat saya. Saya pernah merasakan dia tidak ada, dan itu tidak enak. Sangat.
Kerasnya kehidupan tidak pernah membuat dia takluk. Melewati badai, kegagalan, apa pun, akhirnya dia tetap tegar. Orang mungkin bilang itu kesombongannya. Tapi buat saya, itu kekuatan dia. Kadang dia berurai air mata. Tapi itu wajar. Mami tetaplah manusia biasa.
Kadang saya bertanya, bagaimana dia melewati semuanya. “ Semua demi anak-anak mami. Apapun mami bikin, buat kalian. Asal kalian nantinya bahagia. Itu aja kok.” Dan hanya demi anak-anaknya dia mampu mengorbankan apapun yang dia punya. Walau mungkin itu melukai dia sendiri. Kaki jadi kepala, kepala jadi kaki, demi anak-anaknya. Dan saya melihatnya setiap hari.
Semua pertengkaran saya dengannya tidak punya arti tiap kali mengingat semua yang saya ingat tentang dia. Bagaiman dia tidak pernah berhenti mendoakan saya. Berjiwa besar menerima keputusan apapun yang saya ambil dalam hidup walau dia sebenarnya tidak menyetujuinya. Apapun demi kebahagiaan anaknya.
Dan suatu ketika, saya mengalami kegagalan terbesar dalam hidup saya. Hasil dari suatu keputusan yang tidak sebenarnya dia restui. Rasanya dunia ini kalau bisa berhenti. Sesuatu yang saya takutkan justru terjadi. Hancur. Itu yang saya rasa.
Tapi ternyata perasaan seorang ibu jauh lebih hancur. Walau kata-katanya tajam, dia tidak pernah meninggalkan saya. Setelah mungkin tenaganya habis menghadapi saya yang tidak karuan, akhirnya saya bisa melihat betapa bingung dan lelahnya dia. Saya sedih dengan kegagalan saya. Dan dia membiarkan saya membentak-bentak dia dengan alasan tidak jelas di rumah sakit, dia terlihat sedih. Menatap saya yang sedang kebingungan. Dia cuma menatap nanar. Akhirnya saya diam. Dia datang dengan teh panas dan menyuapi saya makan. Dia tidak meninggalkan saya.
Apa yang saya alami mungkin tidak ada apa-apanya dibanding pengorbanannya. Tidak sebanding dengan semua kerelaan dia atas keputusan saya dulu-dulunya. Ketidaksetujuan dia atas pilihan saya yang membuat saya selalu ribut besar dengan dia. Dan akhirnya keputusan saya justru menjerumuskan saya sendiri. Dia jauh lebih sedih dan menyesal, karena dulu membiarkan saya. Lebih menyesal daripada saya sendiri.
Orang bilang, kehidupan saya berputar dengan dia sebagai porosnya. Mungkin benar. Tapi saya tidak peduli. Orang lain tidak tahu apa yang saya alami dengannya. Mereka tidak melihat dengan kepalanya sendiri. Saya putrinya. Dia membesarkan saya dengan luar biasa caranya.
Saya selalu berusaha untuk tidak bercerita terlalu banyak tentang perasaan saya, kehidupan saya di luar rumah, atau kejadian-kejadian yang menyakitkan kepada Mami. Tapi dia dan caranya sendiri, selalu tahu kapan saya bohong, kapan saya sakit hati, kapan saya kecewa. ”Mami itu tau kamu dari kaki kamu sepanjang jari sampe ukurannya 39.” Intinya, tidak ada gunanya saya menyembunyikan apa pun. Dia selalu tahu isi hati saya.
Tadi saya mendapati dia melirik saya ketika saya sedang memikirkan sesuatu yang penting. Entah dia sedang membaca pikiran saya atau tidak, tidak tahu juga. Dan dia tidak beranjak dari sebelah saya. Berdua dengan ayah saya, mendampingi saya untuk sebuah pembicaraan penting.
Lalu saya mendengar dia menanyakan kado ulang tahunnya ke adik saya. Saya cuma diam. Cuma ingat betapa tuanya Mami sekarang. Betapa saya takut kehilangan dia. Saya belum jadi apa-apa. Gagal malah iya. Segunung emas tidak akan mampu membayar semua yang ia lakukan. Cuma ingat betapa sering saya melawannya. Kadang berbohong juga. Dan dia selalu memaafkan saya. Selalu.
“Mami selalu memaafkan kamu. Sebelum kamu minta.”
Selamat ulang tahun, Mami.